Aren’t you always sad?

You’re right.

But how I wish I wasn’t.

Advertisements

Niat Blog

Suatu sore aku ngopi dengan seorang kawan. Dia blogger. Seorang blogger yang amat senang memperbarui arsip blognya, tetapi itu dulu. Kini Ia terjebak pekerjaan yang menyita waktunya berjam-jam demi mengawasi jalannya demokrasi di negara ini. Itu sangat tidak penting. Nyangkruk jauh lebih penting.

Karena rokok telah habis dibakar dan kopi habis disruput, kami mulai filosofis. Memang ketiadaan aktifitas yang penting membuat ruang bagi pembicaraan yang sangat penting. Karena suatu sebab, yang aku tidak ketahui dengan jelas, kami berbicara perihal blogging dan menulis di blog.

Kawan ini berkeinginan untuk memiliki penghasilan yang berarti dari blognya. Setidaknya dapat mengisi dompetnya, yang nanti akan dikosongkan lagi, dan bisa mengisi hatinya dengan rasa lega karena dapat menanggung kebutuhan keluarga. Menuliskan, bukan, mengetikkan ide-ide kita ke kolom ‘Create a New Post’ tentu merupakan sesuatu yang dapat meringankan kepala dari beban pikiran yang membuat sumuk. Tetapi untuk bisa meraup keuntungan dari menulis blog dapat menyumukkan dompet; dengan uang tentunya.

Nah karena kawan ini berbicara tentang pemasukkan dari blog, aku kelingan temanku yang ada di Jogja sana. Si Ahnaf nama yang diberikan orangtuanya. Ahnaf ini seorang visioner. Memiliki misi pula. Ia mengangankan Indonesia yang lebih maju pemikirannya. Ia ingin menjalankan apa yang terkandung di dalam pembukaan UUD, walaupun itu tugas pemerintah, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam setiap postingan blog, Ia mencantumkan kata kata yang intinya adalah harapan agar apa yang Ia posting dapat mencerdaskan siapapun yang membaca.

Oke dia visioner dan memiliki tujuan mulia. Tetapi jika kamu seperti aku yang paling tidak tahan dengan iklan obat vital yang menggerogoti laman suatu website, maka kamu tentu akan jengkel membaca blog Ahnaf. Karena apa? Karena hanya itu yang akan kamulihat. Di awal membuka laman blog kamu akan ditodong dengan keharusan meng-klik salah satu iklan. Setelah itu pandangan kamu akan dipenuhi iklan di pinggir kanan dan kiri itu blog. Kesal beta.

Mungkin sejauh ini tulisanku terdengar seperti curhatan tak berbobot. Oh tunggu dulu. Kita belum sampai pada inti permasalahan yang membuat diriku gelisah. Tetapi niat. Apa murni karena ingin memajukan umat manusia atau tidak?

Jikalau niatnya adalah untuk berbagi ilmu, maka aku merasa bahwa dia tidak tulus dalam berbagi. Pada dasarnya dia ingin mengambil untung dari ilmu yang Ia bagikan itu. Tidak sakral. Tidak bersih. Tidak suci. Tidak sesuatu yang seikhlas, semurni, semerah dan merona pantat bayi. Bahkan suatu hal yang mengedepankan prinsip-prinsip mutualisme. Sesuatu yang, bagaimana cara bilangnya ya, jahat. Ya. Jahat.

Tetapi selagi menulis ini aku sadar suatu hal. Mungkin juga yang jadi penyebab Ahnaf, dan blogger-blogger lain, memasang iklan di blog mereka bukanlah demi uang semata. Bisa saja demi motivasi untuk menulis lebih banyak lagi, bisa saja karena tuntutan ekonomi, dan ada berjuta ‘bisa saja’ lagi yang bisa saja aku tuliskan. Apapun alasan mereka, tidak baiklah aku katakan jahat. Ya, aku membantah pikiran sendiri.

Tetapi bukankah itu manusia? Selalu merasa lebih baik. Selalu merasa benar. Selalu memandang hal yang dilakukan orang lain lebih baik dari apa yang Ia lakukan. Oh bukan? Kamu tidak demikian? Mungkin cuma aku.

Wangi melati keraton

Setianya manusia setidak-tidaknya ialah pada dirinya.

Contoh pemuda dengan bulu pubik yang sudah Ia cukur jumat lalu itu yang mengebulkan asap ke segelas kopi dingin.

Kopi yang dingin tanpa tambahan aspartam tetaplah kopi walaupun Ia hembuskan residu perukaran oksigen dan nikotin.

Tidak peduli kopi yang ia hisap dan rokok yang dia sruput produk padukuhan mana, Ia tetap menikmati malam bersama kesendirian.

Bulu pubiknya kini lebih menarik, secara tekstur, tetapi dia tidak melihat ada perubahan struktur birokrasi jembut.

Rambutnya yang tidak dibilas dari bulan setengah lalu tetap meliuk liuk seperti lidah Putin ketika menikmati lidah Obama, dan tak luput Ia permainkan dengan jemarinya.

Nah, jemarinya kini telah berubah pula kelengkapannya. Ada kuku-kuku pendek yang mulai tumbuh seiring tumbuhnya dagu di jenggotnya yang nyaris tidak ada.

Ah sudahlah, kereta malam sudah tiba. Kini waktunya Ia kembali ke dalam selimut dan menciumi bau harum melati keraton dari baju putihnya yang menginginkan istri.

Ini pun akan berlalu.

Ini pun akan berlalu

Segala yang ada di dunia ini adalah sementara.

Mau kamu ganteng dan kuat juga tuanya bakalan keriputan dan otonya melar – melar. Kamu cantik dan bahenol juga nanti dadanya turun dan pantatnya melambai – lambai akan tua dan longgar rajin ngeteh. Kehidupan itu sementara, pasti bakal mati. Kematian itu sementara, ntar hidup lagi. Kekuasaan itu sementara, tidak ada raja yang akan duduk di singgasana selamanya, selir akan kabur dan emas akan lebur. Bahagia itu sementara. Rasa puas itu sementara.

Sedih ya? Tidak. Karena bukan saja hal baik yang tidak akan bertahan. Hal buruk juga tidak akan bertahan. Tangis sedu karena ditinggal pacar ke pelaminan juga akan berubah tawa bahagia setelah mengirim karangan bunga kurang ajar untuk dia dan istrinya. Kegelisahan menanti jawaban gebetan juga akan hilang setelah dia memberikan kepastian. Juga kesedihan, kesedihan akut pun pasti berlalu; kalau tidak, untuk apa beer praktek konseling psikologis diciptakan?

Memang kedengerannya nggak penting dan ndak serius. Tapi aku serius! Nggak ada yang abadi!

Dari zaman raja Solomon, sampai ke Buddha, hingga zaman Attar dari Nishapur, orang sudah paham bahwa tidak ada kondisi yang permanen. Karena pada akhirnya ini pun akan berlalu.