23.56

is there still hope for
music to gather up
a certain feeling inside of
young continentals

they’re tired of getting drunk
they want to dance to the tune of life

 

Advertisements

20.37

First lovers do die.

 

They die every day.

Time; fire touching clay.

 

Each recollection,

Fails to bring to vision

Any sort of authentic

Feeling of affection.

 

That feeling, exactly

That, died long ago.

Dying down slowly, like

Falling flakes of snow.

 

They’re dead,

But they live on.

 

Walking to and fro;

Distant shades of

What is no more.

 

Twenty years,

And maybe more.

 

First lovers die,

Just like any other

Thing that lives.

 

Sooner or later,

They have to

Say goodbye.

 

 

Malam Rakus

“Mengapa langit petang membiru, Ibu?”

Tanya Anak pada Ibu, matanya yang hitam itu memantulkan cahaya dari lampu pijar tembok seberang. Ia kini mulai besar, enam tahun sudah umurnya, dan Ibu tetap saja menua. Ia kini mampu bertanya mengenai banyak hal baru, karena tingginya sudah sepinggang orangtua, dan pertanyaan-pertanyaan baru, perihal dirinya maupun perihal dunia, tidak berhenti keluar dari mulutnya. Mulut Anak yang belum pernah mengecap oplosan pinggir jalan.

“Langit petang membiru karena malam menelan matahari, anakku.”

Ucap Ibu pada Anak, dengan nada datar yang sudah biasa muncul dari mulut orangtua yang lelah dengan pertanyaan anak-anak. Orangtua mungkin akan senang melihat anaknya tumbuh besar dan sehat, namun mereka tetap perlu rehat, dan pertanyaan-pertanyaan anaknya kadang sukar untuk dijawab. Jam besar yang tegak di lantai pada sudut ruangan berdentang beberapa kali, menandakan hari sudah malam. Mungkin berdentang sepuluh kali, mungkin sebelas kali dentangan itu berbunyi, Ibu terlalu lelah untuk menghitungnya. Sudah lama Ibu menemani anaknya bertanya-tanya.

“Langit petang membiru karena malam menelan matahari, anakku.”

Anak mengulang perkataan Ibu dalam hati. Bagi si Anak, Ibu adalah orang yang paling bisa ia percaya. Bahkan, semua orang menurutnya harus percaya dengan Ibu. Belum cukup berkerut dahinya untuk kembali bertanya pada ibunya, tidak ada masalah yang muncul dalam kepala mungilnya kala mendengar jawaban Ibu itu. Malam, baginya, benar-benar menelan matahari. Ia percaya bahwa malam rakus, bahkan matahari pun dilahap habis olehnya. Langit membiru, karena malam rakus; lengan Ibu banyak bercak membiru, karena malam rakus.

Lampu pijar di tembok seberang diam. Jam besar yang tegak di lantai pada sudut ruangan diam. Ibu diam. Anak diam. Semuanya diam karena sudah malam.

 

17.19

let’s talk again about our past

and how everything didn’t make sense

and how we almost lost our minds

because growing up was a pain

and the truths we learned hurts

and how our imbalanced hormones

made us stay up all night

wondering why life is so bad

of course it isn’t bad now

but it used to, or it just felt

bad.

 

let’s talk again like we used to,

though I don’t know you like I used to

because we both changed a lot

and still we change, day to day