Malam Rakus

“Mengapa langit petang membiru, Ibu?”

Tanya Anak pada Ibu, matanya yang hitam itu memantulkan cahaya dari lampu pijar tembok seberang. Ia kini mulai besar, enam tahun sudah umurnya, dan Ibu tetap saja menua. Ia kini mampu bertanya mengenai banyak hal baru, karena tingginya sudah sepinggang orangtua, dan pertanyaan-pertanyaan baru, perihal dirinya maupun perihal dunia, tidak berhenti keluar dari mulutnya. Mulut Anak yang belum pernah mengecap oplosan pinggir jalan.

“Langit petang membiru karena malam menelan matahari, anakku.”

Ucap Ibu pada Anak, dengan nada datar yang sudah biasa muncul dari mulut orangtua yang lelah dengan pertanyaan anak-anak. Orangtua mungkin akan senang melihat anaknya tumbuh besar dan sehat, namun mereka tetap perlu rehat, dan pertanyaan-pertanyaan anaknya kadang sukar untuk dijawab. Jam besar yang tegak di lantai pada sudut ruangan berdentang beberapa kali, menandakan hari sudah malam. Mungkin berdentang sepuluh kali, mungkin sebelas kali dentangan itu berbunyi, Ibu terlalu lelah untuk menghitungnya. Sudah lama Ibu menemani anaknya bertanya-tanya.

“Langit petang membiru karena malam menelan matahari, anakku.”

Anak mengulang perkataan Ibu dalam hati. Bagi si Anak, Ibu adalah orang yang paling bisa ia percaya. Bahkan, semua orang menurutnya harus percaya dengan Ibu. Belum cukup berkerut dahinya untuk kembali bertanya pada ibunya, tidak ada masalah yang muncul dalam kepala mungilnya kala mendengar jawaban Ibu itu. Malam, baginya, benar-benar menelan matahari. Ia percaya bahwa malam rakus, bahkan matahari pun dilahap habis olehnya. Langit membiru, karena malam rakus; lengan Ibu banyak bercak membiru, karena malam rakus.

Lampu pijar di tembok seberang diam. Jam besar yang tegak di lantai pada sudut ruangan diam. Ibu diam. Anak diam. Semuanya diam karena sudah malam.

 

Semakin Tidak Jelas

image
Eaaaa

Semakin tidak jelas apa isi kepalaku. Tetapi anehnya hidup semakin jelas tidak indahnya. Tapi itu pula nikmatnya.

Mungkin itu yang aku cari selama ini. Pemahaman akan hidup. Kesadaran bahwa, walaupun tidak indah, hidup ini nikmat.

Tanpa harus mencari kenikmatan hidup, sebenarnya sudah bisa dinikmati. Tanpa harus mengerami
toilet ini bermingguinggu, aku bisa lihat kalau hidup itu tak bermakna. Tetapi kita yang membuat maknanya.

Memaknakan hidup indah bisa. Memaknakan hidup tidak indah bisa. Asal kita tidak jatuh pada kesadaran palsu.

Kesadaran palsu seperti harus kuliah teknik atau kedokteran lalu punya duit banyak dan beranak istri, misalnya. Atau untuk kuliah filsafat atau ilmu budaya agar mengerti hakikat menjadi manusia, misalnya lagi. Hidup ya hidup, tak ada aturan ini atau itu mesti dilakukan.

Karena mau memilih jalan mana yang akan ditempuhpun kita terkekang oleh siapa orangtua kita, apa agama kita, warga negara mana kita, jenis kelamin kita, rupa fisik, dan faktor-faktor penentu lain yang mengikat kita. Karena kebebasan kehendak itu tidak ada. Sampai pada batasan manakah manusia bisa bebas? Ntahlah.

Ini ditulis sambil boker dan ngudud.